Friday, October 14, 2011

Mengenal Rongga Sinus & Gangguannya


BEDAKAN SINUSITIS

Berdasarkan Jenis Peradangan
- Sinusitis infeksi, biasanya disebabkan virus ataupun bakteri.
- Sinusitis noninfeksi, sebagian besar disebabkan alergi dan iritasi bahan kimia.

Berdasarkan Penyebab
- Serangan virus, jamur, atau bakteri mengakibatkan infeksi tenggorok, amandel, serta infeksi gigi bagian belakang.
- Kelainan anatomis hidung (misalnya, sekat pemisah lubang hidung kiri dan kanan yang tidak lurus).
- Ada benda asing di hidung, tumor, dan polip.
- Polusi lingkungan, udara dingin, dan kering

Gejala Saat Serangan Radang Sinus Kronis (sakit lebih dari tiga bulan)
- Sekret di hidung dan kerongkongan terus-menerus akan memicu batuk berkepanjangan.
- Rasa tidak nyaman di kerongkongan.
- Gejaia telinga berupa gangguan pendengaran akibat sumbatan saluran penghubung rongga mulut dan telinga.
- Nyeri kepala pagi dan berkurang ketika siang. Mungkin akibat penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus.
- Penjalaran infeksi menuju mata.
- Radang pada saluran cerna akibat sekret bercampur bakteri yang tertelan.

Infeksi Menjalar Nun Jauh ke Otak

SINUSITIS bukan sekadar radang sinus. Bila penanganan tak memadai, sinusitis dapat menimbulkan gangguan pada organ lain. Misalnya, congek, sesak napas sebagai tanda bronkitis kronis, bahkan infeksi menjalar nun jauh ke otak.
Menurut dr Dendy Hamdali SpTHT-KL, sinusitis yang tak segera diobati akan menjadi kronis. Apalagi, bila "bonus" tumbuh polip pada rongga hidung. Hidung akan tersumbat dan muncul gangguan drainase. Akibatnya, pilek tak kunjung sembuh. Sebagian lendir turun ke tenggorok. "Tak heran jika kemudian si penderita sering mengeluarkan dahak," katanya. Bila menginfeksi paru-paru, si sakit rentan sesak napas. Selain itu, ada beberapa komplikasi sinusitis yang lain. Salah satunya, radang telinga tengah kronis (otitis media kronis) yang lebih dikenal sebagai congek. Hal tersebut disebabkan masuknya lendir ke telinga. Akibatnya, bagian telinga tengah meradang. "Awalnya suhu badan naik, gendang telinga sakit, dan memerah," terang spesialis telinga, hidung, tenggorok-kepala leher dari Siloam Hospitals, Surabaya, itu.
Congek yang tak kunjung sembuh bisa mengakibatkan tuli konduktif. Komplikasi tersebut terutama terjadi pada anak-anak. Sebab, jarak antara telinga dan hidung pada anak relatif lebih pendek. Padahal, saluran yang menghubungkan keduanya relatif lebih besar. Penjalaran infeksi dari hidung ke telinga pun sangat mudah terjadi.
Komplikasi yang tak banyak diduga serta fatal, lanjut Dendy, adalah penyebaran infeksi ke selaput otak atau yang dikenal dengan meningitis. Penderita demam tinggi, muntah, dan kejang. "Harus segera dibawa ke RS," tegasnya. Keterlambatan penanganan berdampak kematian. Sebelum menjadi parah, sinusitis harus ditangani hingga tuntas. Bila mengidap alergi tertentu, sebaiknya hindari alergen (pemicu alergi). Zat-zat alergen itu mengakibatkan pembengkakan mukosa (selaput lendir) hidung. Kemudian, produksi lendir yang kental mengakibatkan penyumbatan saluran napas. "Kondisi tersebut yang mengganggu drainase dan memicu infeksi," kata Dendy.

Perempuan Harus Cukup Tidur

DIBANDINGKAN para lelaki, waktu tidur kaum perempuan cenderung lebih pendek. Apalagi, setelah menikah dan punya anak. Sebagian waktu tidur dikorbankan untuk menyusui atau membuatkan susu bayi dan balita ketika malam. Belum lagi dalam kondisi darurat, misalnya suami atau buah hati sakit. Meski perempuan lebih mampu mengatasi kondisi kurang tidur tersebut, sebaiknya kurang tidur tidak diabaikan. Sebab, para ibu yang waktu tidumya kurang dari enam jam akan rentan mengidap sakit. Terutama, diabetes melitus, tekanan darah tinggi, dan jantungan.
"Waktu tidur yang kurang atau tidur yang tidak berkualitas berdampak buruk bagi kesehatan," kata Francesco Cappuccio, dosen ilmu Kardiovaskular dan epidemi Warwick Medical School, sebagaimana dikutip dari Daily Mail. Bersama timnya, dia menemukan keterkaitan antara kurang tidur dan tekanan darah tinggi pada perempuan. Tapi, gejala yang sama tak muncul pada kaum pria.
Dalam penelitian yang dilakukan Cappuccio dan timnya, diketahui bahwa tekanan darah para perempuan yang kurang tidur cenderung tinggi. Mereka yang hanya tidur maksimal lima jam tiap malam memiliki catatan tekanan darah relatif lebih tinggi daripada kelompok perempuan yang tidur tujuh jam tiap malam. "Kecenderungan itu tidak ditemukan pada kaum pria. Sesedikit apa pun jam tidurnya," terangnya. Di samping dampak medis, kurang tidur juga berpengaruh pada kondisi psikis perempuan. Tim ilmuwan dari University of Pittsburgh School of Medicine menemukan adanya keterkaitan antara kurang tidur dan kualitas hubungan suami istri.