Monday, August 1, 2011

Malu-Malu, tapi Mau

BANYAK ahli menganjurkan pasangan melakukan make-up sex setelah bertengkar. Sayang, belum banyak perempuan yang berani mengajukan inisiatif setelah saling bersitegang mempertahankan pendapat. Yang ada malah malu atau takut ditolak. Hal itu diakui Erina, 28. Perempuan yang berprofesi sebagai supervisor di perusahaan swasta tersebut pemah bertengkar hebat dengan sang suami. Padahal, mereka berada di tengah cuti liburan. Penyebabnya Dia kecewa karena suaminya lebih suka leyeh-leyeh di hotel daripada jalan-jalan. Setelah otot-ototan sejam, dia capek dan ingin dipeluk. Dia sudah minta maaf dan berjanji mengajak saya jalan-jalan meski lebih suka menonton televisi di kamar hotel. Bahkan, dia sudah ganti baju dan siap keluar kamar. Melihat itu, Hati siapa yang tidak luluh?" kata Erina. "Tapi, untuk mengajak berhubungan, saya malu berat," imbuhnya.
Meski begitu, Erina tidak kehilangan akal. Dia lalu mengetik SMS untuk suaminya. Isinya hanya dua kata, do me. "Suami awalnya ragu-ragu. Setelah saya bilang bahwa saya nggak marah, we did it. Hasilnya menyenangkan: ungkap perempuan yang tiga tahun berumah tangga tersebut. Lala mengakui kehebatan sihir make-up sex. Menurut dia, berhubungan sambil menyimpan perasaan bersalah membuat dirinya ingin memberikan yang terbaik buat sang suami. "Itu (make-up sex) selalu berhasil dalam dua hal, membuat kualitas seks lebih baik plus membayar kesalahan kepada suami. Setelah bercinta, dia tidak marah lagi" papar perempuan 37 tahun tersebut.
Lantas, bagaimana kalau sang suami yang melakukan kesalahan? "Itu tidak pernah terjadi. Selalu saya yang ngajak berantem," jawab Lala lantas tertawa

Baru Bertemu Lebih Asyik

PILIHAN bermain peran sangat luas. Kalau malas mengkreasi peran-peran aneh, ada satu opsi lagi yang bisa dicoba. Yakni, menjadi total stranger alias pasangan yang tidak saling kenal. Misalnya, teman yang baru bertemu di kelab atau teman seperjalanan di kereta api. "Bercinta dengan orang asing bisa memunculkan sensasi tersendiri," ungkap Evelyn Fisboin.
Saskia setuju dengan pendapat Evelyn. Perempuan 34 tahun itu mengungkapkan sering berpura-pura menjadi total stranger bersama sang suami. Biasanya, itu mereka lakukan pada momen-momen istimewa, seperti ulang tahun atau ulang tahun pernikahan.
"Ya, ada bermacam-macam ide. Biasanya, kami cuti, lalu menyewa hotel di dalam kota. Lucunya, kami berangkat sendiri-sendiri," ungkap Saskia. "Setelah itu, saya ke bar atau resto hotel. Suami datang setengah jam kemudian dan berpura-pura mengajak kenalan. Pick-up line dan obrolannya pun seperti orang yang baru kenal. Penuh basa-basi," imbuhnya. Setelah itu, obrolan mengarah ke urusan ranjang. Pasangan yang mengikat janji tujuh tahun lain tersebut pun make love layaknya orang asing. "Rasanya sangat free, tanpa beban. Seperti apa pun performa saat itu, saya tidak khawatir. Sebab, toh besok kami tidak bertemu lagi. Kan, ceritanya hanya kencan sesaat. Perasaan itulah yang bikin role play efektif untuk refreshing;" papar perempuan yang berprofesi sebagai notaris tersebut.
Penikmat permainan peran bukan hanya pasangan yang sudah lama menikah. Lucy dan Andre yang baru naik ke pelaminan setahun lalu sering melakukan role play. "Buat lucu-lucuan aja. Kebetulan, kami sama-sama suka berimajinasi. Jadi, main peran apa aja, kami klop," jelas Lucy. Salah satu favorit perempuan 26 tahun tersebut adalah corporate scene. Senjatanya adalah blazer hitam plus rok pensil pendek. Sang suami mengenakan kemeja dan dasi. Untuk melengkapi fantasi, meja kerja Andre dipilih sebagai lokasi bercinta. "Mungkin. karena saya bukan orang kantoran, kalau kerja nggak pernah pakai blazer. Jadi, fantasinya dibikin seekstrem mungkin dengan kenyataan," jelas ilustrator sebuah majalah tersebut.

Bermain Peran Hangatkan Hubungan

PERNAH berfantasi aneh-aneh? Misalnya, bercinta di tepi pantai, di alas pasir dan ditemani debur ombak yang menenangkan. Atau, lebih sederhana lagi. Memadu kasih dengan David Beckham yang ganteng dan seksi?
Semua orang punya fantasi dalam kehidupan seksual, termasuk perempuan. Kalau biasanya hanya disimpan sendiri, cobalah berbagi dengan pasangan lain praktikkan berdua. Misalnya, bermain peran. Ini bisa menjadi variasi hingga kegiatan bercinta dalam rumah tangga tidak terasa sebagai rutinitas belaka.
Dengan sedikit usaha dan persiapan, fantasi-fantasi tersebut bisa diwujudkan bersama pasangan tercinta melalui permainan peran yang asyik. Bermain peran dalam hubungan seks atau kerap disebut role play disarankan oleh para ahli. Terlebih, buat pasangan yang sudah lama menikah atau menganggap seks sebagai bagian dari rutinitas belaka. Memainkan peran sesuai fantasi sudah pasti akan membawa Anda keluar dari rutinitas yang kadang membosankan tersebut.
"Melakukan hubungan seks sembari memainkan peran yang sama sekali berbeda daripada kehidupan sesungguhnya punya banyak manfaat. Pasangan jadi lebih kreatif di ranjang," jelas Evelyn Fisboin, terapis perkawinan dan keluarga dari Mind Spectrum Institute, Florida.
Dalam role play, kita bisa menjadi apa saja sesuai dengan keinginan. Jalannya peran juga berbeda, bergantung kenyamanan pasangan. Ada yang memainkan peran hanya melalui dialog. Artinya, pasangan berpura-pura menjadi orang yang dibayangkan, tanpa kostum dan perlengkapan pendukung lain. Ada pula yang menggunakan peranti lengkap. Misalnya, memakai terusan putih khas suster rumah sakit. Untuk si dia, cukup memakai jas putih dan stetoskop. Skenario lain, ambil dress bergaya corporate berwarna gelap, lengkapi kacamata besar plus birkin bag. Lantas, minta suami mengenakan seragam LA Galaxy nomor 23. Pasangan Victoria dan David Beckham pun siap beraksi.
"Anda juga bisa mereka-reka sendiri dialog dan adegan. Tidak perlu bikin skenario yang harus dihafal selama berhubungan seks. Mengalir saja, yang penting sesuai dengan peran," jelas Fisboin. "Tidak menjadi diri sendiri membuat pikiran lebih bebas. Anda bisa benar-benar melepaskan diri dari keseharian yang melelahkan," papar dia.
Efeknya, imbuh Fisboin, akan muncul keberanian untuk menjajal gaya-gaya yang biasanya tidak pemah dilirik "Kalau biasanya suami selalu meminta posisi missionary, ajaklah bermain menjadi ibu direktur dan manajer pemasaran. Dengan menjadi bos, Anda bisa mengambil alih dominasi," tuturnya.
Dalam tataran ekstrem, tidak jarang pasangan tergoda mencoba peran yang mengerikan. Misalnya, dengan tangan terikat atau mulut tersumpal. Fisboin mengatakan, role play sah-sah saja selama pasangan bisa menikmati. "Pastikan fantasi Anda dan suami aman. Jangan lupa selalu mengecek apakah ikatannya menyakiti atau semacamnya. Yang paling penting, tidak ada yang melakukannya dengan terpaksa," tegas dia.
Role play, selain mengeksplorasi peran-peran yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi, juga meningkatkan intimacy suami istri. Sebab, berbagi fantasi membutuhkan konfidensi dan kepercayaan yang lebih kepada pasangan. Perasaan malu, takut ditertawakan, sampai takut ditolak sudah dilewati.untuk menghindari reaksi penolakan dari suami, relationship expert Johanna Lyman mengingatkan pasangan untuk selalu berkomunikasi sebelum menjalankan aksi. Sampaikan keinginan atau fantasi dengan cara yang halus dan tidak membuat si dia merasa ditolak atau dilupakan. "Ingatkan dia bahwa Anda ingin melakukan role play sebagai variasi dari kegiatan seksual.Tidak melulu karena Anda merasa bosan" jelas Lymann. Role play bisa menjadi bagian integral untuk menjaga gairah suatu hubungan yang sudah lama berlangsung. Di sini yang lebih bermain adalah imajinasi dan bukan melulu libido.